Kumpulan Sajak WS Rendra Pilihan (Perjuangan)

by nusantaraku

Orang-orang Miskin

Oleh: W.S. Rendra

Orang-orang miskin di jalan,
yang tinggal di dalam selokan,
yang kalah di dalam pergulatan,
yang diledek oleh impian,
janganlah mereka ditinggalkan.

Angin membawa bau baju mereka.
Rambut mereka melekat di bulan purnama.
Wanita-wanita bunting berbaris di cakrawala,
mengandung buah jalan raya.

Orang-orang miskin. Orang-orang berdosa.
Bayi gelap dalam batin. Rumput dan lumut jalan raya.
Tak bisa kamu abaikan.

Bila kamu remehkan mereka,
di jalan  kamu akan diburu bayangan.
Tidurmu akan penuh igauan,
dan bahasa anak-anakmu sukar kamu terka.

Jangan kamu bilang negara ini kaya
karena orang-orang berkembang di kota dan di desa.
Jangan kamu bilang dirimu kaya
bila tetanggamu memakan bangkai kucingnya.
Lambang negara ini mestinya trompah dan blacu.
Dan perlu diusulkan
agar ketemu presiden tak perlu berdasi seperti Belanda.
Dan tentara di jalan jangan bebas memukul mahasiswa.

Orang-orang miskin di jalan
masuk ke dalam tidur malammu.
Perempuan-perempuan bunga raya
menyuapi putra-putramu.
Tangan-tangan kotor dari jalanan
meraba-raba kaca jendelamu.
Mereka tak bisa kamu biarkan.

Jumlah mereka tak bisa kamu mistik menjadi nol.
Mereka akan menjadi pertanyaan
yang mencegat ideologimu.
Gigi mereka yang kuning
akan meringis di muka agamamu.
Kuman-kuman sipilis dan tbc dari gang-gang gelap
akan hinggap di gorden presidenan
dan buku programma gedung kesenian.

Orang-orang miskin berbaris sepanjang sejarah,
bagai udara panas yang selalu ada,
bagai gerimis yang selalu membayang.
Orang-orang miskin mengangkat pisau-pisau
tertuju ke dada kita,
atau ke dada mereka sendiri.
O, kenangkanlah :
orang-orang miskin
juga berasal dari kemah Ibrahim

Yogya, 4 Pebruari 1978
Potret Pembangunan dalam Puisi

===========================================================

Sajak Sebatang Lisong

Oleh : W.S. Rendra

Menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya,
mendengar 130 juta rakyat,
dan di langit
dua tiga cukong mengangkang,
berak di atas kepala mereka

Matahari terbit.
Fajar tiba.
Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak
tanpa pendidikan.

Aku bertanya,
tetapi pertanyaan-pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet,
dan papantulis-papantulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan.

Delapan juta kanak-kanak
menghadapi satu jalan panjang,
tanpa pilihan,
tanpa pepohonan,
tanpa dangau persinggahan,
tanpa ada bayangan ujungnya.
…………………

Menghisap udara
yang disemprot deodorant,
aku melihat sarjana-sarjana menganggur
berpeluh di jalan raya;
aku melihat wanita bunting
antri uang pensiun.

Dan di langit;
para tekhnokrat berkata :

bahwa bangsa kita adalah malas,
bahwa bangsa mesti dibangun;
mesti di-
up-grade
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor

Gunung-gunung menjulang.
Langit pesta warna di dalam senjakala
Dan aku melihat
protes-protes yang terpendam,
terhimpit di bawah tilam.

Aku bertanya,
tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair-penyair salon,
yang bersajak tentang anggur dan rembulan,
sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya
dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan
termangu-mangu di kaki dewi kesenian.

Bunga-bunga bangsa tahun depan
berkunang-kunang pandang matanya,
di bawah iklan berlampu neon,
Berjuta-juta harapan ibu dan bapak
menjadi gemalau suara yang kacau,
menjadi karang di bawah muka samodra.
………………

Kita harus berhenti membeli rumus-rumus asing.
Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan.
Kita mesti keluar ke jalan raya,
keluar ke desa-desa,
mencatat sendiri semua gejala,
dan menghayati persoalan yang nyata.

Inilah sajakku
Pamplet masa darurat.
Apakah artinya kesenian,
bila terpisah dari derita lingkungan.
Apakah artinya berpikir,
bila terpisah dari masalah kehidupan.

19 Agustus 1977
ITB Bandung

===========================================================

Aku Tulis Pamplet Ini
Oleh : W.S. Rendra

Aku tulis pamplet ini
karena lembaga pendapat umum
ditutupi jaring labah-labah
Orang-orang bicara dalam kasak-kusuk,
dan ungkapan diri ditekan
menjadi peng – iya – an

Apa yang terpegang hari ini
bisa luput besok pagi
Ketidakpastian merajalela.
Di luar kekuasaan kehidupan menjadi teka-teki
menjadi marabahaya
menjadi isi kebon binatang

Apabila kritik hanya boleh lewat saluran resmi,
maka hidup akan menjadi sayur tanpa garam
Lembaga pendapat umum tidak mengandung pertanyaan.
Tidak mengandung perdebatan
Dan akhirnya menjadi monopoli kekuasaan

Aku tulis pamplet ini
karena pamplet bukan tabu bagi penyair
Aku inginkan merpati pos.
Aku ingin memainkan bendera-bendera semaphore di tanganku
Aku ingin membuat isyarat asap kaum Indian.

Aku tidak melihat alasan
kenapa harus diam tertekan dan termangu.
Aku ingin secara wajar kita bertukar kabar.
Duduk berdebat menyatakan setuju dan tidak setuju.

Kenapa ketakutan menjadi tabir pikiran ?
Kekhawatiran telah mencemarkan kehidupan.
Ketegangan telah mengganti pergaulan pikiran yang merdeka.

Matahari menyinari airmata yang berderai menjadi api.
Rembulan memberi mimpi pada dendam.
Gelombang angin menyingkapkan keluh kesah

yang teronggok bagai  sampah
Kegamangan. Kecurigaan.
Ketakutan.
Kelesuan.
Aku tulis pamplet ini
karena kawan dan lawan adalah saudara
Di dalam alam masih ada cahaya.
Matahari yang tenggelam diganti rembulan.
Lalu besok pagi pasti terbit kembali.
Dan di dalam air lumpur kehidupan,
aku melihat bagai terkaca :
ternyata kita, toh, manusia !

Pejambon Jakarta 27 April 1978
Potret Pembangunan dalam Puisi

===========================================================

Doa Seorang Serdadu Sebelum Perang

Oleh : W.S. Rendra

Tuhanku,
WajahMu membayang di kota terbakar
dan firmanMu terguris di atas ribuan
kuburan yang dangkal

Anak menangis kehilangan bapa
Tanah sepi kehilangan lelakinya
Bukannya benih yang disebar di bumi subur ini
tapi bangkai dan wajah mati yang sia-sia

Apabila malam turun nanti
sempurnalah sudah warna dosa
dan mesiu kembali lagi bicara
Waktu itu, Tuhanku,
perkenankan aku membunuh
perkenankan aku menusukkan sangkurku

Malam dan wajahku
adalah satu warna
Dosa dan nafasku
adalah satu udara.
Tak ada lagi pilihan
kecuali menyadari
-biarpun bersama penyesalan-

Apa yang bisa diucapkan
oleh bibirku yang terjajah ?
Sementara kulihat kedua lengaMu yang capai
mendekap bumi yang mengkhianatiMu
Tuhanku
Erat-erat kugenggam senapanku
Perkenankan aku membunuh
Perkenankan aku menusukkan sangkurku

Mimbar Indonesia
Th. XIV, No. 25
18 Juni 1960

===========================================================

Gerilya

Oleh : W.S. Rendra

Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki berguling di jalan

Angin tergantung
terkecap pahitnya tembakau
bendungan keluh dan bencana

Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki berguling dijalan

Dengan tujuh lubang pelor
diketuk gerbang langit
dan menyala mentari muda
melepas kesumatnya

Gadis berjalan di subuh merah
dengan sayur-mayur di punggung
melihatnya pertama

Ia beri jeritan manis
dan duka daun wortel

Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki berguling dijalan

Orang-orang kampung mengenalnya
anak janda berambut ombak
ditimba air bergantang-gantang
disiram atas tubuhnya

Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki berguling dijalan

Lewat gardu Belanda dengan berani
berlindung warna malam
sendiri masuk kota
ingin ikut ngubur ibunya

Siasat
Th IX, No. 42
1955

===========================================================

GUGUR

Oleh : W.S. Rendra

Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya
Tiada kuasa lagi menegak
Telah ia lepaskan dengan gemilang
pelor terakhir dari bedilnya
Ke dada musuh yang merebut kotanya

Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya
Ia sudah tua
luka-luka di badannya

Bagai harimau tua
susah payah maut menjeratnya
Matanya bagai saga
menatap musuh pergi dari kotanya

Sesudah pertempuran yang gemilang itu
lima pemuda mengangkatnya
di antaranya anaknya
Ia menolak
dan tetap merangkak
menuju kota kesayangannya

Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya
Belumlagi selusin tindak
mautpun menghadangnya.
Ketika anaknya memegang tangannya
ia berkata :
” Yang berasal dari tanah
kembali rebah pada tanah.
Dan aku pun berasal dari tanah
tanah Ambarawa yang kucinta
Kita bukanlah anak jadah
Kerna kita punya bumi kecintaan.
Bumi yang menyusui kita
dengan mata airnya.
Bumi kita adalah tempat pautan yang sah.
Bumi kita adalah kehormatan.
Bumi kita adalah juwa dari jiwa.
Ia adalah bumi nenek moyang.
Ia adalah bumi waris yang sekarang.
Ia adalah bumi waris yang akan datang.”
Hari pun berangkat malam
Bumi berpeluh dan terbakar
Kerna api menyala di kota Ambarawa

Orang tua itu kembali berkata :
“Lihatlah, hari telah fajar !
Wahai bumi yang indah,
kita akan berpelukan buat selama-lamanya !
Nanti sekali waktu
seorang cucuku
akan menacapkan bajak
di bumi tempatku berkubur
kemudian akan ditanamnya benih
dan tumbuh dengan subur
Maka ia pun berkata :
-Alangkah gemburnya tanah di sini!”

Hari pun lengkap malam
ketika menutup matanya

===========================================================

Hai, Kamu !

Oleh : W.S. Rendra

Luka-luka di dalam lembaga,
intaian keangkuhan kekerdilan jiwa,
noda di dalam pergaulan antar manusia,
duduk di dalam kemacetan angan-angan.
Aku berontak dengan memandang cakrawala.

Jari-jari waktu menggamitku.
Aku menyimak kepada arus kali.
Lagu margasatwa agak mereda.
Indahnya ketenangan turun ke hatiku.
Lepas sudah himpitan-himpitan yang mengekangku.

Jakarta, 29 Pebruari 1978
Potret Pembangunan dalam Puisi

===========================================================

Lagu Seorang Gerilya

(Untuk puteraku Isaias Sadewa)
Oleh : W.S. Rendra

Engkau melayang jauh, kekasihku.
Engkau mandi cahaya matahari.
Aku di sini memandangmu,
menyandang senapan, berbendera pusaka.

Di antara pohon-pohon pisang di kampung kita yang berdebu,
engkau berkudung selendang katun di kepalamu.
Engkau menjadi suatu keindahan,
sementara dari jauh
resimen
tank penindas terdengar menderu.

Malam bermandi  cahaya matahari,
kehijauan menyelimuti medan perang yang membara.
Di dalam hujan tembakan mortir, kekasihku,
engkau menjadi pelangi yang agung dan syahdu

Peluruku habis
dan darah muncrat dari dadaku.
Maka  di saat seperti itu
kamu menyanyikan lagu-lagu perjuangan
bersama kakek-kakekku yang telah gugur
di dalam berjuang membela rakyat jelata

Jakarta, 2 september 1977
Potret Pembangunan dalam Puisi

===========================================================

Lagu Serdadu

Oleh : W.S. Rendra

Kami masuk serdadu dan dapat senapang
ibu kami nangis tapi elang toh harus terbang
Yoho, darah kami campur arak!
Yoho, mimpi kami patung-patung dari perak

Nenek cerita pulau-pulau kita indah sekali
Wahai, tanah yang baik untuk mati
Dan kalau ku telentang dengan pelor timah
cukilah ia bagi puteraku di rumah

Siasat
No.  630, th. 13
Nopember 1959

===========================================================

Mazmur Mawar

Oleh : W.S. Rendra

Kita muliakan Nama Tuhan
Kita muliakan dengan segenap mawar
Kita muliakan Tuhan yang manis,
indah, dan penuh kasih sayang
Tuhan adalah serdadu yang tertembak
Tuhan berjalan di sepanjang jalan becek
sebagai orang miskin yang tua dan bijaksana
dengan baju compang-camping
membelai kepala kanak-kanak yang lapar.
Tuhan adalah Bapa yang sakit batuk
Dengan pandangan arif dan bijak
membelai kepala para pelacur
Tuhan berada di gang-gang gelap
Bersama para pencuri, para perampok
dan para pembunuh
Tuhan adalah teman sekamar para penjinah
Raja dari segala raja
adalah cacing bagi bebek dan babi
Wajah Tuhan yang manis adalah meja pejudian
yang berdebu dan dibantingi kartu-kartu

Dan sekarang saya lihat
Tuhan sebagai orang tua renta
tidur melengkung di trotoar
batuk-batuk karena malam yang dingin
dan tangannya menekan perutnya yang lapar
Tuhan telah terserang lapar, batuk, dan selesma,
menangis di tepi jalan.
Wahai, ia adalah teman kita yang akrab!
Ia adalah teman kita semua: para musuh polisi,
Para perampok, pembunuh, penjudi,
pelacur, penganggur, dan peminta-minta
Marilah kita datang kepada-Nya
kita tolong teman kita yang tua dan baik hati.

Dikutip dari:
Sajak-sajak Sepatu Tua
Rendra
Pustaka Jaya

Dirgahayu6 – Karya Wiyata 83 Tahun XX Juli-Agustus 1997

===========================================================

Pamplet Cinta

Oleh : W.S. Rendra

Ma, nyamperin matahari dari satu sisi.
Memandang wajahmu dari segenap jurusan.

Aku menyaksikan zaman berjalan kalangkabutan.
Aku melihat waktu melaju melanda masyarakatku.
Aku merindukan wajahmu,
dan aku melihat wajah-wajah berdarah para mahasiswa.
Kampus telah diserbu mobil berlapis baja.
Kata-kata telah dilawan dengan senjata.
Aku muak dengan gaya keamanan semacam ini.
Kenapa keamanan justru menciptakan ketakutan dan ketegangan
Sumber keamanan seharusnya hukum dan akal sehat.
Keamanan yang berdasarkan senjata dan kekuasaan adalah penindasan

Suatu malam aku mandi di lautan.
Sepi menjdai kaca.
Bunga-bunga yang ajaib bermekaran di langit.
Aku inginkan kamu, tapi kamu tidak ada.
Sepi menjadi kaca.

Apa yang bisa dilakukan oleh penyair
bila setiap kata telah dilawan dengan kekuasaan ?
Udara penuh rasa curiga.
Tegur sapa tanpa jaminan.

Air lautan berkilat-kilat.
Suara lautan adalah suara kesepian.
Dan lalu muncul wajahmu.

Kamu menjadi makna
Makna menjadi harapan.
……. Sebenarnya apakah harapan ?
Harapan adalah karena aku akan membelai rambutmu.
Harapan adalah karena aku akan tetap menulis sajak.
Harapan adalah karena aku akan melakukan sesuatu.
Aku tertawa, Ma !

Angin menyapu rambutku.
Aku terkenang kepada apa yang telah terjadi.

Sepuluh tahun aku berjalan tanpa tidur.
Pantatku karatan aku seret dari warung ke warung.
Perutku sobek di jalan raya yang lengang…….
Tidak. Aku tidak sedih dan kesepian.
Aku menulis sajak di bordes kereta api.
Aku bertualang di dalam udara yang berdebu.

Dengan berteman anjing-anjing geladak dan kucing-kucing liar,
aku bernyanyi menikmati hidup yang kelabu.
Lalu muncullah kamu,
nongol dari perut matahari bunting,
jam duabelas seperempat siang.
Aku terkesima.
Aku disergap kejadian tak terduga.
Rahmat turun bagai hujan
membuatku segar,
tapi juga menggigil bertanya-tanya.
Aku jadi bego, Ma !

Yaaah , Ma, mencintai kamu adalah bahagia dan sedih.
Bahagia karena mempunyai kamu di dalam kalbuku,
dan sedih karena kita sering berpisah.
Ketegangan menjadi pupuk cinta kita.
Tetapi bukankah kehidupan sendiri adalah bahagia dan sedih ?
Bahagia karena  napas mengalir dan jantung berdetak.
Sedih karena pikiran diliputi bayang-bayang.
Adapun harapan adalah penghayatan akan ketegangan.

Ma, nyamperin matahari dari satu sisi,
memandang wajahmu dari segenap jurusan.

Pejambon, Jakarta, 28 April 1978
Potret Pembangunan dalam Puisi

===========================================================

Sajak Seorang Tua Untuk Isterinya

Oleh : W.S. Rendra

Aku tulis sajak ini
untuk menghibur hatimu
Sementara kau kenangkan encokmu
kenangkanlah pula masa remaja kita yang gemilang
Dan juga masa depan kita
yang hampir rampung
dan dengan lega akan kita lunaskan.

Kita tidaklah sendiri
dan terasing dengan nasib kita
Kerna soalnya adalah hukum sejarah kehidupan.
Suka duka kita bukanlah istimewa
kerna setiap orang mengalaminya.

Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh
Hidup adalah untuk mengolah hidup
bekerja membalik tanah
memasuki rahasia langit dan samodra,
serta mencipta dan mengukir dunia.
Kita menyandang tugas,
kerna tugas adalah tugas.
Bukannya demi sorga atau neraka.
Tetapi demi kehormatan seorang manusia.

Kerna sesungguhnyalah kita bukan debu
meski kita telah reyot, tua renta dan kelabu.
Kita adalah kepribadian
dan harga kita adalah kehormatan kita.
Tolehlah lagi ke belakang
ke masa silam yang tak seorangpun kuasa menghapusnya.

Lihatlah betapa tahun-tahun kita penuh warna.
Sembilan puluh tahun yang dibelai napas kita.
Sembilan puluh tahun yang selalu bangkit
melewatkan tahun-tahun lama yang porak poranda.
Dan kenangkanlah pula
bagaimana kita dahulu tersenyum senantiasa
menghadapi langit dan bumi, dan juga nasib kita.

Kita tersenyum bukanlah kerna bersandiwara.
Bukan kerna senyuman adalah suatu kedok.
Tetapi kerna senyuman adalah suatu sikap.
Sikap kita untuk Tuhan, manusia sesama,
nasib, dan kehidupan.

Lihatlah! Sembilan puluh tahun penuh warna
Kenangkanlah bahwa kita telah selalu menolak menjadi koma.
Kita menjadi goyah dan bongkok
kerna usia nampaknya lebih kuat dari kita
tetapi bukan kerna kita telah terkalahkan.

Aku tulis sajak ini
untuk menghibur hatimu
Sementara kaukenangkan encokmu
kenangkanlah pula
bahwa kita ditantang seratus dewa.

WS. Rendra, Sajak-sajak sepatu tua,1972

…BAHWA KITA DITANTANG SERATUS DEWA.

About these ads

~ oleh dBo pada Agustus 11, 2009.

18 Tanggapan to “Kumpulan Sajak WS Rendra Pilihan (Perjuangan)”

  1. Kadang Sejati kita…telah pergi…
    Burung Merak kita…telah terbang tinggi…

    MANTAPKAN KEPAK SAYAPMU…MENUJU ALAM ABADI…
    ‘TUK BERSANDING DISISI…SANG ADI KODRATI…

    KEPAK SAYAPMU TELAH MENINGGALKAN GETAR RESONANSI…
    RESONANSI JATI DIRI SEJATI…
    YANG MAKIN MERESAPI SETIAP SANUBARI…

    MAKIN MENGGELORA…TIGA BERAKUMULASI…
    TRIWIKRAMA-BUDAYA…DEMI KEJAYAAN NKRI…

    KADANG SEJATI…
    KURELAKAN ENGKAU PERGI…

  2. Kumpulan Sajak WS RENDRA Pilihan tersebut, adalah hasil COPAS disertai ijin dari http://nusantaranews.wordpress.com/
    Dalam rangka mengenang Perjuangan WS RENDRA, guna menyongsong Delapan Windu Kemerdekaan NKRI…

    Rahayu…Karaharjan NKRI

  3. Sajak puisi yang sangat dalam yang mungkin hanya bisa di mengerti oleh orang-orang tertentu orang-orang yang punya jiwa seni tinggi. Membuat rindu pada nya

  4. Saya mengucapkan SELAMAT menjalankan PUASA RAMADHAN.. sekaligus Mohon Maaf Lahir dan Bathin jika ada kata kata maupun omongan dan pendapat yang telah menyinggung atau melukai perasaan para sahabat dan saudaraku yang kucinta dan kusayangi.. semoga bulan puasa ini menjadi momentum yang baik dalam melangkah dan menghampiriNYA.. dan menjadikan kita manusia seutuhnya meliputi lahir dan bathin.. meraih kesadaran diri manusia utuh..

    Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabat Sahabatku terchayaaaaaank
    I Love U fullllllllllllllllllllllllllllllll

  5. @Yth. Kadang Sihkatresnan mas Gustav Adam,

    Komentar singkat, padat, yang bahkan memacu pendalaman makna…
    Lebih menggelorakan Getar-Resonansi…

    Rendra…tidak hanya Penyair-Pejuang,
    Rendra…tidak hanya Sastrawan-Pejuang,
    Rendra…adalah BUDAYAWAN-PEJUANG,
    Rendra…secara totalitas adalah…PEJUANG-BUDAYA.

    Setidaknya, itulah getar yang saya rasakan.

    Terimakasih…terimakasih atas kunjungannya
    Rahayu…Karaharjan

    @Yth. Kadang Sutresna kangBoed,

    Terimakasih atas kunjungannya,
    Saya sebagai manusia yang sangat biasa, tentu tidak terhindar dari sifat khilaf, salah koment/tulis/ucap.
    Untuk ini Mohon Maaf Lahir dan Bathin,
    Selamat Menjalankan Ibadah Puasa dikedalaman Makna,
    Semoga melalui Puasa, kita lebih mampu menjernihkan bathin kita, untuk bekal menapaki langkah kehidupan kita selanjutnya…
    Semoga ALLAH swt melimpahkan Berkat dan RahmatNYA kepada kangBoed sekeluarga dan semua Kadang Sutresna di NKRI…

    Rahayu…Karaharjan

  6. Salam kenal mas dbo911,
    Mau ikutan baca-baca syair WS Rendra.

    Salam Persahabatan.

  7. Salam kenal dan salam persahabatan juga mas Lambang,

    Silahkan baca-baca sajak2 WS. RENDRA..,
    Ternyata sejak akhir th.1960-an RENDRA telah ber TRIWIKRAMA-BUDAYA…

    Terimakasih atas kunjungannya
    Rahayu…Karaharjan

  8. minta ijin copas Yang
    buat inspirasi

  9. pamuji rahayu..,

    kadahngku Kimas DBO.. matur sembah nuwun .., puisi meniko tansah mengingatkan pada seseorang teman lama saya dulu orang Nyalindung Sumedang.. karya karyanya mirip beliau WS. Rendra…, semoga tiwikrama budaya beliau bisa kita teruskan sebagai generasi yang seharusnya meneruskan dan mengisi sejatinya Merdeka.., Sugeng hanetepi lan mapag wulan meniko kanthi kekiatan lahir bathos.., matur sembah nuwun
    salam sihkatresnan
    rahayu.

  10. @ki nakmas Tomy yth,

    Silahkan…silahkan, saya juga copas dari http://nusantaranews.wordpress.com/. Ada satu kumpulan lagi yang umumnya dibabar didepan para mahasiswa diberbagai perguruan-tinggi, tapi tidak saya copas.

    Mangga…silahkan

    @kimas Hadi Wirojati yth.,

    Begitulah mas harapan kita, semoga para Generasi Penerus Bangsa NKRI selalu ingat akan Sangkan Paraning Dumadi, bangga/memelihara/mempertahankan JATI-DIRI SEJATINYA…
    Keberadaan kita semua…sangat dekat dengan Batang-Induk Pohon Kehidupan(Kalpataru)…Dan ini tidak mungkin dicuri/diklaim oleh bangsa/negara lain.

    Matur nuwun doanya, demikian juga kagem panjenengan sekeluarga…tansah pinaringan karaharjan

    Eh…njur pengin tahu Sumedang…batal nggak ya..he..he..

  11. hehehe….. kangmas ini bisa aja… tahu sumedang gembos kangmas.. ga ada dalemannya … lagian puasa ngomongin makanan jadi pengin.. hehehe…, sendiko dhawuh.. mekaten ingkang janten pengarep arep kita sami.. mugya generasi mudha sageda… nglampahi lan tiwikrama budaya sejatosipun mengembalikan jati diri bangsa .., pripun kangmas.. nopo panjenengan kersa tahu Kerajaan Sumedang Larang.. hehehe.. mangke kula kintun.. nyuwun lenggahipun panjenengan wonten pundi….?
    matur sembah nuwun,
    salam sihkatresnan
    rahayu karaharjan.

  12. Hey good stuff…keep up the good work! :)

  13. PAmuji rahayu..,

    kangmas Dbo11 .. mugya panjenengan sekeluargi tansah ginanja wilujeng angsal bekahing Gusti Ingkang Maha Wikan,… tebih ing rubedha niring sambikala.., katuraken mugya panjenengan kanthe renaning penggalih..,

    Sugeng riaya 1430H. nyuwun gunging pangaksami bathin kang utami..lahir ingkang kalih.., mugya sedaya kelepatan tansah lebur ing dinten riyadi meniko. nuwun

    salam sihkatresnan
    rahayu..,

  14. Matur nuwun…matur nuwun Kidimas Hadi Wirojati,

    Kawula ugi nyenyuwun dumateng Gusti Ingkang Maha Asih, mugi tansah Paring Kasugengan, Rahayu Karaharjan dumateng panjenengan sakaluargi.
    Sugeng Riyadi 1Syawal 1430H, nyuwun agunging pangaksami Lahir utaminipun Bhatin sesambetan sadaya kalepatan kawula dumateng panjenengan.

    Salam…
    Rahayu…Karaharjan

  15. Mas DB911 keparenga kulo ngaturaken, Sugeng Riyadi setunggal Syawal 1430H, bilih anggen kulo “sesrawungan” kalian panjenengann woten trapsila, atur, ingkang dadosaken kirang renaning penggalih, Nyuwun agunging samudra sih pangaksami Lair utaminipun BATIN mugya linebur ing dinten riyadi meniko.

    Salam…Salam…Salam
    Rahayu

  16. Kunjuk atur dumateng Ki Dalang DB911 Sakeluarga…
    Kula TukiPon Sakeluwarga..

    NGATURAKEN SUGENG RIYADI 1430 H

    Mugi Amal saha Ibadah kita sedaya wonten ing sak lebeting Alam Gesang Saged dipun tampi kalian Gusti Ingkang Maha Kuwaos Lan boten kesupen kula ngaturaken agunging Samudra pangaksami dumateng Ki Dalang DB911 Sakeluarga… Mbok bilih wonten ing saklebeting kekadangan ing Padepokan mriki Wonten salah ucap saha salah atur kula ingkang kirang nujuprono ing saklebeting manah Ki Dalang DB911 lan para Kadang. Sepindah malih kula ngaturaken agunging Sih Samudra Pangaksami… lan mugi Gusti ingkang Maha Kuwaos Purun hanglebur kesalahan kito sedoyo. Amiin…

    Salam
    Sihkatresnan Selalu :D

  17. saya tertarik sekali dengan masalah budaya, apalagi generasi sekarang mulai tergerus dengan budaya pop, oleh karena itu saya mencoba membahas dan melestarikan salah satu budaya pernikahan adat yang ada di Indonesia. Mohon masukan dan dukungannya ya, makasih :)

  18. Injih, matur nuwun sanget kisanak ingkang dahat kinurmatan, sampun karsa rawuh pinarak ing ‘gubug-penceng’ kawula punika…
    Terasa mendapat tetes ‘Air Bening Dingin’ dlm hati, mengetahui ada Kadang-Sihkatresnan yg masih bersemangat melestarikan/memelihara Budaya Nuswantara yang beraneka ragam…

    Sekali lagi matur-nuwun, saya segera sowan ke ‘pernikahan adat’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: