“RENUNGAN KEMERDEKAAN R.I.”

•Agustus 15, 2010 • 1 Komentar

Tulisan dibawah ini bukan karya tulis saya, namun copas dari buku agenda harian yang saya miliki.

Saya menganggap perlu meng-unggah tulisan ini dengan maksud memelihara api semangat serta makna PROKLAMASI KEMERDEKAAN NKRI, yang pada detik-detik akhir saat itu, dipersiapkan dengan cepat namun cermat oleh para Pendiri Bangsa.

Akhir kata, tulisan ini saya persembahkan kepada Generasi Muda Penerus Bangsa NKRI, dengan harapan bisa menjadi “jimat” atau “kompas”, dalam Menapaki Langkah2 Pembangunan Mengisi Kemerdekaan NKRI selanjutnya dalam meraih kembali Kebesaran dan Kejayaan Nusantara…

Semoga Gusti Ingkang Murbeng Dumadi selaku melimpahkan Kanugrahan, Karaharjan dan Karahayon…

UNDANG-UNDANG DASAR

NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945

PEMBUKAAN

Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala Bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan Rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.

Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidpan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-undang Dasar Negara Indonesia yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada: Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, dan Kerakyatan yang dipimpin oleh oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia.

PROKLAMASI

Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan Kemerdekaan Indonesia.

Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l, diselenggarakan dengan tjara saksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.

Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 1945

atas nama bangsa Indonesia

SOEKARNO / HATTA

“RENUNGAN DALAM BERPUASA”

•Agustus 10, 2010 • 1 Komentar

Pertama-tama kepada yth Para Sutresna yang menjalankan Ibadah Siyam(puasa) dimanapun berada, saya mengucapkan ‘Selamat Menjalankan Ibadah tersebut secara khusuk demi peningkatan diri-pribadi dalam segala segi kehidupan;
Semoga dalam menjalankan amal-ibadah selalu mendapat limpahan HidayahNYA. Amin ya Rabbal alamin.’

Lebih dari itu, perkenankan saya menyampaikan beberapa bahan “RENUNGAN DALAM BERPUASA”, sbb:

  1. Dalam penulisan antara ‘Islam dan islam’, menurut anda mana yang benar dan mana yang mempunyai kandungan makna “merahmati seluruh alam”;
  2. Bila dihadapkan pada penulisan ‘Muhamad – Muhammad – muhammad’, apakah ini benar serta mana yang mungkin Rasulullah dan mana yang sebelum Adam?(bahkan malah tanpa awal dan tanpa akhir)

Semoga bahan2 renungan tersebut dapat menjadi pengisi waktu menanti buka puasa.

Sebagai penutup saya menyampaikan Permohonan Maaf Lahir dan Batin sedalam-dalamnya atas kekhilafan dan kesalahan baik sengaja maupun tidak…

Rahayu Karaharjan

SANG PAHLAWAN BESAR

•November 9, 2009 • 20 Komentar

Renungan Hari Pahlawan 10 Nopember

Tulisan ini mengenai seorang Pahlawan dari perspektif saya, bahkan seorang PAHLAWAN BESAR NUSWANTARA.

  • Beliau memiliki kesadaran akan kebesaran/keluasan Wawasan-Nusantara;
  • Beliau peletak dasar Bhinneka Tunggal Ika;
  • Beliau konseptor Nagara Kertagama;
  • Beliau dengan gagah berani, secara ksatriya menghadang/menghadapi bangsa Mongol yang mengganggu wilayah Semenanjung Melayu dan Tumasik, bahkan mengancam Sriwijaya.

Menghayati, Merenungi serta Meresapi uraian dalam sebuah situs-web encyclopedia, muncul disamping rasa kagum, tetapi juga pertanyaan2 besar, antara lain:

  • Sifat gagah-berani dipadu dengan kesadaran akan wawasan Nuswantara, siapa sebenarnya beliau atau ada ‘apa’ dibalik itu;
  • Apakah saat itu yang lebih dari 700-th yl. Beliau sudah memiliki kesadaran atau mendapat petunjuk bahwa Nuswantara?Tanah Jawa adalah Pusat_Peradaban Purba Dunia, sebagaimana akhir2 ini banyak diuraikan diberbagai situs-internet;
  • Apakah pada saat itu beliau sudah mengaetahui Situs-Purbakala SANGIRAN, atau katakanlah mendapat Resonansi-Getar dari Leluhurnya Rumpun Besar Ras Manusia;
  • Apakah beliau pada saat itu, lebih 700-th yl. sudah memiliki kesadaran/petunjuk, adanya Aji Saka, Pohon-Kehidupan, Tiang-Utama yang berdiri kokoh, tegak, yang menaungi begitu luas rumpun2 bangsa, Madagaskar/Pantai Timur Afrika, Asia-Selatan/India/Semenanjung Melayu/Tumasik, Philipina, Hawaii/Tahiti, Australia;

Inilah sajian singkat saya, semoga dapat menjadi bahan renungan kita bersama dalam suasana Menyemangati Kembali Hari Pahlawan 10-Nopember ;

Uraian2 singkat diatas, sebagian merupakan inti-sari kesimpulan uraian encyclopedia-sejarah, sebagian lainnya seperti sosok-tokoh merupakan/renungan pribadi.

Oleh sebab itu, apabila ada bagian yang perlu koreksi, pelurusan dsb. disamping sangat saya nantikan, juga sangat saya hargai dan saya terima dengan keluasan hati, karena semuanya saya gunakan sebagai pencerahan/perluasan wawasan.

Mungkin masih ada/banyak para sidang pembaca yang terhormat pemerhati sejarah yang bertanya-tanya siapakah Beliau. Untuk ini silahkan klik:

http://id.wikipedia.org/wiki/Kertanagara

Bagimu Para Pahlawan Kemerdekaan…….

________________

http://dbo911.wordpress.com/

Kumpulan Sajak WS Rendra Pilihan (Perjuangan)

•Agustus 11, 2009 • 18 Komentar

by nusantaraku

Orang-orang Miskin

Oleh: W.S. Rendra

Orang-orang miskin di jalan,
yang tinggal di dalam selokan,
yang kalah di dalam pergulatan,
yang diledek oleh impian,
janganlah mereka ditinggalkan.

Angin membawa bau baju mereka.
Rambut mereka melekat di bulan purnama.
Wanita-wanita bunting berbaris di cakrawala,
mengandung buah jalan raya.

Orang-orang miskin. Orang-orang berdosa.
Bayi gelap dalam batin. Rumput dan lumut jalan raya.
Tak bisa kamu abaikan.

Bila kamu remehkan mereka,
di jalan  kamu akan diburu bayangan.
Tidurmu akan penuh igauan,
dan bahasa anak-anakmu sukar kamu terka.

Jangan kamu bilang negara ini kaya
karena orang-orang berkembang di kota dan di desa.
Jangan kamu bilang dirimu kaya
bila tetanggamu memakan bangkai kucingnya.
Lambang negara ini mestinya trompah dan blacu.
Dan perlu diusulkan
agar ketemu presiden tak perlu berdasi seperti Belanda.
Dan tentara di jalan jangan bebas memukul mahasiswa.

Orang-orang miskin di jalan
masuk ke dalam tidur malammu.
Perempuan-perempuan bunga raya
menyuapi putra-putramu.
Tangan-tangan kotor dari jalanan
meraba-raba kaca jendelamu.
Mereka tak bisa kamu biarkan.

Jumlah mereka tak bisa kamu mistik menjadi nol.
Mereka akan menjadi pertanyaan
yang mencegat ideologimu.
Gigi mereka yang kuning
akan meringis di muka agamamu.
Kuman-kuman sipilis dan tbc dari gang-gang gelap
akan hinggap di gorden presidenan
dan buku programma gedung kesenian.

Orang-orang miskin berbaris sepanjang sejarah,
bagai udara panas yang selalu ada,
bagai gerimis yang selalu membayang.
Orang-orang miskin mengangkat pisau-pisau
tertuju ke dada kita,
atau ke dada mereka sendiri.
O, kenangkanlah :
orang-orang miskin
juga berasal dari kemah Ibrahim

Yogya, 4 Pebruari 1978
Potret Pembangunan dalam Puisi

===========================================================

Sajak Sebatang Lisong

Oleh : W.S. Rendra

Menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya,
mendengar 130 juta rakyat,
dan di langit
dua tiga cukong mengangkang,
berak di atas kepala mereka

Matahari terbit.
Fajar tiba.
Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak
tanpa pendidikan.

Aku bertanya,
tetapi pertanyaan-pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet,
dan papantulis-papantulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan.

Delapan juta kanak-kanak
menghadapi satu jalan panjang,
tanpa pilihan,
tanpa pepohonan,
tanpa dangau persinggahan,
tanpa ada bayangan ujungnya.
…………………

Menghisap udara
yang disemprot deodorant,
aku melihat sarjana-sarjana menganggur
berpeluh di jalan raya;
aku melihat wanita bunting
antri uang pensiun.

Dan di langit;
para tekhnokrat berkata :

bahwa bangsa kita adalah malas,
bahwa bangsa mesti dibangun;
mesti di-
up-grade
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor

Gunung-gunung menjulang.
Langit pesta warna di dalam senjakala
Dan aku melihat
protes-protes yang terpendam,
terhimpit di bawah tilam.

Aku bertanya,
tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair-penyair salon,
yang bersajak tentang anggur dan rembulan,
sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya
dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan
termangu-mangu di kaki dewi kesenian.

Bunga-bunga bangsa tahun depan
berkunang-kunang pandang matanya,
di bawah iklan berlampu neon,
Berjuta-juta harapan ibu dan bapak
menjadi gemalau suara yang kacau,
menjadi karang di bawah muka samodra.
………………

Kita harus berhenti membeli rumus-rumus asing.
Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan.
Kita mesti keluar ke jalan raya,
keluar ke desa-desa,
mencatat sendiri semua gejala,
dan menghayati persoalan yang nyata.

Inilah sajakku
Pamplet masa darurat.
Apakah artinya kesenian,
bila terpisah dari derita lingkungan.
Apakah artinya berpikir,
bila terpisah dari masalah kehidupan.

19 Agustus 1977
ITB Bandung

===========================================================

Aku Tulis Pamplet Ini
Oleh : W.S. Rendra

Aku tulis pamplet ini
karena lembaga pendapat umum
ditutupi jaring labah-labah
Orang-orang bicara dalam kasak-kusuk,
dan ungkapan diri ditekan
menjadi peng – iya – an

Apa yang terpegang hari ini
bisa luput besok pagi
Ketidakpastian merajalela.
Di luar kekuasaan kehidupan menjadi teka-teki
menjadi marabahaya
menjadi isi kebon binatang

Apabila kritik hanya boleh lewat saluran resmi,
maka hidup akan menjadi sayur tanpa garam
Lembaga pendapat umum tidak mengandung pertanyaan.
Tidak mengandung perdebatan
Dan akhirnya menjadi monopoli kekuasaan

Aku tulis pamplet ini
karena pamplet bukan tabu bagi penyair
Aku inginkan merpati pos.
Aku ingin memainkan bendera-bendera semaphore di tanganku
Aku ingin membuat isyarat asap kaum Indian.

Aku tidak melihat alasan
kenapa harus diam tertekan dan termangu.
Aku ingin secara wajar kita bertukar kabar.
Duduk berdebat menyatakan setuju dan tidak setuju.

Kenapa ketakutan menjadi tabir pikiran ?
Kekhawatiran telah mencemarkan kehidupan.
Ketegangan telah mengganti pergaulan pikiran yang merdeka.

Matahari menyinari airmata yang berderai menjadi api.
Rembulan memberi mimpi pada dendam.
Gelombang angin menyingkapkan keluh kesah

yang teronggok bagai  sampah
Kegamangan. Kecurigaan.
Ketakutan.
Kelesuan.
Aku tulis pamplet ini
karena kawan dan lawan adalah saudara
Di dalam alam masih ada cahaya.
Matahari yang tenggelam diganti rembulan.
Lalu besok pagi pasti terbit kembali.
Dan di dalam air lumpur kehidupan,
aku melihat bagai terkaca :
ternyata kita, toh, manusia !

Pejambon Jakarta 27 April 1978
Potret Pembangunan dalam Puisi

===========================================================

Doa Seorang Serdadu Sebelum Perang

Oleh : W.S. Rendra

Tuhanku,
WajahMu membayang di kota terbakar
dan firmanMu terguris di atas ribuan
kuburan yang dangkal

Anak menangis kehilangan bapa
Tanah sepi kehilangan lelakinya
Bukannya benih yang disebar di bumi subur ini
tapi bangkai dan wajah mati yang sia-sia

Apabila malam turun nanti
sempurnalah sudah warna dosa
dan mesiu kembali lagi bicara
Waktu itu, Tuhanku,
perkenankan aku membunuh
perkenankan aku menusukkan sangkurku

Malam dan wajahku
adalah satu warna
Dosa dan nafasku
adalah satu udara.
Tak ada lagi pilihan
kecuali menyadari
-biarpun bersama penyesalan-

Apa yang bisa diucapkan
oleh bibirku yang terjajah ?
Sementara kulihat kedua lengaMu yang capai
mendekap bumi yang mengkhianatiMu
Tuhanku
Erat-erat kugenggam senapanku
Perkenankan aku membunuh
Perkenankan aku menusukkan sangkurku

Mimbar Indonesia
Th. XIV, No. 25
18 Juni 1960

===========================================================

Gerilya

Oleh : W.S. Rendra

Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki berguling di jalan

Angin tergantung
terkecap pahitnya tembakau
bendungan keluh dan bencana

Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki berguling dijalan

Dengan tujuh lubang pelor
diketuk gerbang langit
dan menyala mentari muda
melepas kesumatnya

Gadis berjalan di subuh merah
dengan sayur-mayur di punggung
melihatnya pertama

Ia beri jeritan manis
dan duka daun wortel

Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki berguling dijalan

Orang-orang kampung mengenalnya
anak janda berambut ombak
ditimba air bergantang-gantang
disiram atas tubuhnya

Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki berguling dijalan

Lewat gardu Belanda dengan berani
berlindung warna malam
sendiri masuk kota
ingin ikut ngubur ibunya

Siasat
Th IX, No. 42
1955

===========================================================

GUGUR

Oleh : W.S. Rendra

Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya
Tiada kuasa lagi menegak
Telah ia lepaskan dengan gemilang
pelor terakhir dari bedilnya
Ke dada musuh yang merebut kotanya

Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya
Ia sudah tua
luka-luka di badannya

Bagai harimau tua
susah payah maut menjeratnya
Matanya bagai saga
menatap musuh pergi dari kotanya

Sesudah pertempuran yang gemilang itu
lima pemuda mengangkatnya
di antaranya anaknya
Ia menolak
dan tetap merangkak
menuju kota kesayangannya

Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya
Belumlagi selusin tindak
mautpun menghadangnya.
Ketika anaknya memegang tangannya
ia berkata :
” Yang berasal dari tanah
kembali rebah pada tanah.
Dan aku pun berasal dari tanah
tanah Ambarawa yang kucinta
Kita bukanlah anak jadah
Kerna kita punya bumi kecintaan.
Bumi yang menyusui kita
dengan mata airnya.
Bumi kita adalah tempat pautan yang sah.
Bumi kita adalah kehormatan.
Bumi kita adalah juwa dari jiwa.
Ia adalah bumi nenek moyang.
Ia adalah bumi waris yang sekarang.
Ia adalah bumi waris yang akan datang.”
Hari pun berangkat malam
Bumi berpeluh dan terbakar
Kerna api menyala di kota Ambarawa

Orang tua itu kembali berkata :
“Lihatlah, hari telah fajar !
Wahai bumi yang indah,
kita akan berpelukan buat selama-lamanya !
Nanti sekali waktu
seorang cucuku
akan menacapkan bajak
di bumi tempatku berkubur
kemudian akan ditanamnya benih
dan tumbuh dengan subur
Maka ia pun berkata :
-Alangkah gemburnya tanah di sini!”

Hari pun lengkap malam
ketika menutup matanya

===========================================================

Hai, Kamu !

Oleh : W.S. Rendra

Luka-luka di dalam lembaga,
intaian keangkuhan kekerdilan jiwa,
noda di dalam pergaulan antar manusia,
duduk di dalam kemacetan angan-angan.
Aku berontak dengan memandang cakrawala.

Jari-jari waktu menggamitku.
Aku menyimak kepada arus kali.
Lagu margasatwa agak mereda.
Indahnya ketenangan turun ke hatiku.
Lepas sudah himpitan-himpitan yang mengekangku.

Jakarta, 29 Pebruari 1978
Potret Pembangunan dalam Puisi

===========================================================

Lagu Seorang Gerilya

(Untuk puteraku Isaias Sadewa)
Oleh : W.S. Rendra

Engkau melayang jauh, kekasihku.
Engkau mandi cahaya matahari.
Aku di sini memandangmu,
menyandang senapan, berbendera pusaka.

Di antara pohon-pohon pisang di kampung kita yang berdebu,
engkau berkudung selendang katun di kepalamu.
Engkau menjadi suatu keindahan,
sementara dari jauh
resimen
tank penindas terdengar menderu.

Malam bermandi  cahaya matahari,
kehijauan menyelimuti medan perang yang membara.
Di dalam hujan tembakan mortir, kekasihku,
engkau menjadi pelangi yang agung dan syahdu

Peluruku habis
dan darah muncrat dari dadaku.
Maka  di saat seperti itu
kamu menyanyikan lagu-lagu perjuangan
bersama kakek-kakekku yang telah gugur
di dalam berjuang membela rakyat jelata

Jakarta, 2 september 1977
Potret Pembangunan dalam Puisi

===========================================================

Lagu Serdadu

Oleh : W.S. Rendra

Kami masuk serdadu dan dapat senapang
ibu kami nangis tapi elang toh harus terbang
Yoho, darah kami campur arak!
Yoho, mimpi kami patung-patung dari perak

Nenek cerita pulau-pulau kita indah sekali
Wahai, tanah yang baik untuk mati
Dan kalau ku telentang dengan pelor timah
cukilah ia bagi puteraku di rumah

Siasat
No.  630, th. 13
Nopember 1959

===========================================================

Mazmur Mawar

Oleh : W.S. Rendra

Kita muliakan Nama Tuhan
Kita muliakan dengan segenap mawar
Kita muliakan Tuhan yang manis,
indah, dan penuh kasih sayang
Tuhan adalah serdadu yang tertembak
Tuhan berjalan di sepanjang jalan becek
sebagai orang miskin yang tua dan bijaksana
dengan baju compang-camping
membelai kepala kanak-kanak yang lapar.
Tuhan adalah Bapa yang sakit batuk
Dengan pandangan arif dan bijak
membelai kepala para pelacur
Tuhan berada di gang-gang gelap
Bersama para pencuri, para perampok
dan para pembunuh
Tuhan adalah teman sekamar para penjinah
Raja dari segala raja
adalah cacing bagi bebek dan babi
Wajah Tuhan yang manis adalah meja pejudian
yang berdebu dan dibantingi kartu-kartu

Dan sekarang saya lihat
Tuhan sebagai orang tua renta
tidur melengkung di trotoar
batuk-batuk karena malam yang dingin
dan tangannya menekan perutnya yang lapar
Tuhan telah terserang lapar, batuk, dan selesma,
menangis di tepi jalan.
Wahai, ia adalah teman kita yang akrab!
Ia adalah teman kita semua: para musuh polisi,
Para perampok, pembunuh, penjudi,
pelacur, penganggur, dan peminta-minta
Marilah kita datang kepada-Nya
kita tolong teman kita yang tua dan baik hati.

Dikutip dari:
Sajak-sajak Sepatu Tua
Rendra
Pustaka Jaya

Dirgahayu6 – Karya Wiyata 83 Tahun XX Juli-Agustus 1997

===========================================================

Pamplet Cinta

Oleh : W.S. Rendra

Ma, nyamperin matahari dari satu sisi.
Memandang wajahmu dari segenap jurusan.

Aku menyaksikan zaman berjalan kalangkabutan.
Aku melihat waktu melaju melanda masyarakatku.
Aku merindukan wajahmu,
dan aku melihat wajah-wajah berdarah para mahasiswa.
Kampus telah diserbu mobil berlapis baja.
Kata-kata telah dilawan dengan senjata.
Aku muak dengan gaya keamanan semacam ini.
Kenapa keamanan justru menciptakan ketakutan dan ketegangan
Sumber keamanan seharusnya hukum dan akal sehat.
Keamanan yang berdasarkan senjata dan kekuasaan adalah penindasan

Suatu malam aku mandi di lautan.
Sepi menjdai kaca.
Bunga-bunga yang ajaib bermekaran di langit.
Aku inginkan kamu, tapi kamu tidak ada.
Sepi menjadi kaca.

Apa yang bisa dilakukan oleh penyair
bila setiap kata telah dilawan dengan kekuasaan ?
Udara penuh rasa curiga.
Tegur sapa tanpa jaminan.

Air lautan berkilat-kilat.
Suara lautan adalah suara kesepian.
Dan lalu muncul wajahmu.

Kamu menjadi makna
Makna menjadi harapan.
……. Sebenarnya apakah harapan ?
Harapan adalah karena aku akan membelai rambutmu.
Harapan adalah karena aku akan tetap menulis sajak.
Harapan adalah karena aku akan melakukan sesuatu.
Aku tertawa, Ma !

Angin menyapu rambutku.
Aku terkenang kepada apa yang telah terjadi.

Sepuluh tahun aku berjalan tanpa tidur.
Pantatku karatan aku seret dari warung ke warung.
Perutku sobek di jalan raya yang lengang…….
Tidak. Aku tidak sedih dan kesepian.
Aku menulis sajak di bordes kereta api.
Aku bertualang di dalam udara yang berdebu.

Dengan berteman anjing-anjing geladak dan kucing-kucing liar,
aku bernyanyi menikmati hidup yang kelabu.
Lalu muncullah kamu,
nongol dari perut matahari bunting,
jam duabelas seperempat siang.
Aku terkesima.
Aku disergap kejadian tak terduga.
Rahmat turun bagai hujan
membuatku segar,
tapi juga menggigil bertanya-tanya.
Aku jadi bego, Ma !

Yaaah , Ma, mencintai kamu adalah bahagia dan sedih.
Bahagia karena mempunyai kamu di dalam kalbuku,
dan sedih karena kita sering berpisah.
Ketegangan menjadi pupuk cinta kita.
Tetapi bukankah kehidupan sendiri adalah bahagia dan sedih ?
Bahagia karena  napas mengalir dan jantung berdetak.
Sedih karena pikiran diliputi bayang-bayang.
Adapun harapan adalah penghayatan akan ketegangan.

Ma, nyamperin matahari dari satu sisi,
memandang wajahmu dari segenap jurusan.

Pejambon, Jakarta, 28 April 1978
Potret Pembangunan dalam Puisi

===========================================================

Sajak Seorang Tua Untuk Isterinya

Oleh : W.S. Rendra

Aku tulis sajak ini
untuk menghibur hatimu
Sementara kau kenangkan encokmu
kenangkanlah pula masa remaja kita yang gemilang
Dan juga masa depan kita
yang hampir rampung
dan dengan lega akan kita lunaskan.

Kita tidaklah sendiri
dan terasing dengan nasib kita
Kerna soalnya adalah hukum sejarah kehidupan.
Suka duka kita bukanlah istimewa
kerna setiap orang mengalaminya.

Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh
Hidup adalah untuk mengolah hidup
bekerja membalik tanah
memasuki rahasia langit dan samodra,
serta mencipta dan mengukir dunia.
Kita menyandang tugas,
kerna tugas adalah tugas.
Bukannya demi sorga atau neraka.
Tetapi demi kehormatan seorang manusia.

Kerna sesungguhnyalah kita bukan debu
meski kita telah reyot, tua renta dan kelabu.
Kita adalah kepribadian
dan harga kita adalah kehormatan kita.
Tolehlah lagi ke belakang
ke masa silam yang tak seorangpun kuasa menghapusnya.

Lihatlah betapa tahun-tahun kita penuh warna.
Sembilan puluh tahun yang dibelai napas kita.
Sembilan puluh tahun yang selalu bangkit
melewatkan tahun-tahun lama yang porak poranda.
Dan kenangkanlah pula
bagaimana kita dahulu tersenyum senantiasa
menghadapi langit dan bumi, dan juga nasib kita.

Kita tersenyum bukanlah kerna bersandiwara.
Bukan kerna senyuman adalah suatu kedok.
Tetapi kerna senyuman adalah suatu sikap.
Sikap kita untuk Tuhan, manusia sesama,
nasib, dan kehidupan.

Lihatlah! Sembilan puluh tahun penuh warna
Kenangkanlah bahwa kita telah selalu menolak menjadi koma.
Kita menjadi goyah dan bongkok
kerna usia nampaknya lebih kuat dari kita
tetapi bukan kerna kita telah terkalahkan.

Aku tulis sajak ini
untuk menghibur hatimu
Sementara kaukenangkan encokmu
kenangkanlah pula
bahwa kita ditantang seratus dewa.

WS. Rendra, Sajak-sajak sepatu tua,1972

…BAHWA KITA DITANTANG SERATUS DEWA.

TRIWIKRAMA BUDAYA

•Juni 26, 2009 • 48 Komentar

KRITIK MEMBANGUN UNTUK RAJA JAWA

Pernyataan bersama Mas Kumitir & Wong Alus

Bagaimana memajukan negeri kita agar bisa setara dengan negeri-negeri lainnya seperti China dan Jepang yang memiliki cadangan devisa terbesar di dunia? Salah satu hal yang kami sepakati adalah diperlukan sebuah revolusi budaya di negeri kita. Kenapa harus budaya? Sebab intisari budaya adalah pola pikir, perilaku, kebiasaan yang sudah berakar kuat dalam kurun waktu yang panjang. Pola pikir para anak bangsa yang cenderung tidak kreatif, tidak inovatif dan secara salah menafsirkan harapan hidup pada akhirnya melahirkan generasi yang tidk memahami sangkan paraning dumadi.

Inilah masa sekarang. Generasi yang dimanja oleh situasi yang memang membius mereka dalam kemudahan dan tidak mengenal proses perjuangan untuk merengkuh kebebasan dan kemerdekaan. Pengembangan diri bersifat pragmatis dan materialistis yang hanya ditujukan untuk meraih prestasi dan melupakan pengembangan diri yang bertumpu pada budaya keindonesiaan kita.

Siapa yang harusnya memulai untuk mengadakan gerakan REVOLUSI BUDAYA? Menurut hemat kami, yang harus mengawali adalah meraka yang selama ini hidup di sentra, kantong, dan EPISENTRUM BUDAYA. Siapa lagi kalau bukan PARA RAJA dan PARA KERABAT DAN SENTANA DALEM. Raja tidak hanya simbol, merekalah yang mengganggam RUH BUDAYA karena dari sala sesungguhnya dimulainya BUDAYA.

PARA RAJA JAWA (KHUSUSNYA RAJA DI KRATON KASULTANAN NGAYOGYAKARTA HADININGRAT, RAJA DI KRATON PURI PAKUALAMAN, RAJA DI KRATON MANGKUNEGARAN, RAJA DI KRATON KASUNANAN SURAKARTA) kini tidak mampu lagi menempatkan dirinya dalam kancah perubahan budaya di masyarakat modern.

Mereka terpaku dan hanya jadi penonton perubahan budaya yang berlangsung cepat. Mereka tidak mampu menjadi PENGGERAK BUDAYA yang konon sangat adiluhung. Bagaimana bisa menjadi penggerak budaya bila kita semua hidup semakin HEDONISTIK DAN FEODALISTIK?

Para raja itu masih hidup tapi tidak memiliki semangat untuk menjadikan masyarakat yang berbudaya Jawa tersebut maju, berilmu tinggi dan mampu mengolah rasa/dzikir dan pikir mereka sehingga menjadikan budaya sebagai basis pengembangan diri. Masyarakat yang kehilangan JATI DIRI BUDAYA tempat dimana dulu mereka dilahirkan akan tumbuh sebagai masyarakat yang anti peradaban dan cenderung hanya menyerap peradaban modern tanpa disaring.

Budaya membaca, menulis, mengolah diri menjadi manusia yang berbudi pekerti luhur dan sesuai dengan jati diri bangsa kian lama kian hilang. Padahal di dalam khasanah budaya Jawa kita mengenal kearifan lokal bagaimana hidup di tengah perubahan yang cepat.

Kami telah berusaha keras untuk mendapatkan berbagai kitab-kitab Jawa kuno baik berupa manuskrip, fotokopi, atau buku aslinya tapi itu lebih banyak kami dapat dari buku-buku yang dijual dipinggir jalan. Sementara buku0buku yang ada di Kraton yang kami yakini masih bertumpuk di gudang-gudang semakin dimakan kutu buku dan rayap.

Keraton -sejauh kami tahu- tidak memilikniat untuk membuka akses buku-buku babon dari para pujangga Jawa. Para Raja, Para Kerabat dan Para Sentono Dalem tidak memiliki keinginan sedikitpun untuk MBEBER KAWICAKSANAN dan selama ini lebih cenderung untuk HANYA MENYIMPAN DALAM GUDANG SAJA.

Inikah FUNGSI KRATON SEBAGAI SARANA UNTUK NGURI-URI KEBUDAYAAN JAWA YANG ADILUHUNG ITU? Bila Kraton dan juga para Raja menyadari fungsinya sebagai penggerak dan pelumas bergeraknya budaya, harusnya mereka membuka akses kepada masyarakat seluas-luasnya untuk mendapatkan informasi termasuk juga mendapatkan KUNCI MASUK KE PERPUSTAKAAN KRATON.

Menyimpan buku-buku/naskah-naskah kuno dan menganggapnya sebagai JIMAT adalah sangat bertentangan dengan membangun budaya dan secara umummembangun bangsa. Sebab membangun bansa diperlukan gotong royong yang erat berdasarkan profesi dan kompetensinya masing-masing. Bila budayawan Jawa saja kesulitan untuk mendapatkan akses ke kraton, mana bisa mereka mengetahui nilai-nilai buday Jawa jaman dahulu bila tidak dari buku-buku kuno?

BUDAYA bukanlah hanya HASIL, sebagaimana candi-candi, rumah-rumah adat, kitab-kitab kuno, adat istiadat, benda-benda seni dan lainnya. Budaya adalah sebuah PROSES yang terjadi di masyarakat yang harus terus BERINOVASI dan memiliki ENERGI KREATIF yang besar untuk memajukan kemanusiaan yang lebih manusiawi, yang memiliki rasa kebertuhanan yang lanjut dan hingga sampai kesimpulan penghayatan hidup.

Untuk mengetahui HAKIKAT BUDAYA, kita memerlukan sebuah proses MEMBACA DAN MENULIS. Baik membaca KITAB YANG TERTULIS, maupun membaca dalam arti yang luas yaitu MEMBACA KITAB TIDAK TERTULIS, yaitu ALAM SEMESTA beserta ciptaanNya. Sementara MENULIS berarti mengadakan PERENUNGAN dan MENGOLAH DENGAN AKAL PIKIR hingga kemudian berlanjut ke tahap MELAKUKAN DALAM PERILAKUNYA SENDIRI-SENDIRI.

Sebagai bagian dari semangat NGANGSU KAWRUH itulah maka, sudah pada tempatnya bila PARA RAJA DI RAJA (KHUSUSNYA RAJA DI KRATON KASULTANAN NGAYOGYAKARTA HADININGRAT, RAJA DI KRATON PURI PAKUALAM, RAJA DI KRATON MANGKUNEGARAN, RAJA DI KRATON KASUNANAN SURAKARTA) membuka akses yang seluas-luasnya kepada masyarakat untuk MEMPELAJARI kitab-kitab kuno yang hingga saat ini masih tersimpan erat dalam gudang-gudang mereka.

Demikian uneg-uneg dari kami, semoga para RAJA JAWA menyadari KEMBALI PERANNYA SEBAGAI PEMIMPIN KHALIFAH DI MUKA BUMI, PENYANGGA BUMI, PENATA AGAMA, Mohon maaf bila tidak berkenan dan MONGGO KEPADA REKAN-REKAN YANG SEGARIS PERJUANGAN UNTUK BERGABUNG DENGAN KAMI DALAM GERAKAN REVOLUSI BUDAYA JAWA INI.

Hormat kami,

Ttd

Mas Kumitir alangalangkumitir.wordpress.com

Wong Alus wongalus.wordpress.com

Selingan Khusus

•Mei 3, 2009 • 15 Komentar

Selingan Khusus…kilas gelar..

wayang ‘Poerwa Sambita’

oleh dBo=dalangBento…o..o..o

 

dlang..tak..dlang..tak..tak..dlang..gungngngng…

Oooo…eee…aaa…

malam kelam mencekam…bhumi gonjang-ganjing…jawa-dwipa semakin miring…..

 

saya ceritakan, ditlatah situs-purbakala Patiayam…prabu Kresna(K) bersedekap-tangan menghadap ketimur…lama tercenung dalam menung..dibelakangnya prabu Wrekudara(W) mengiringi.. Keduanya cukup lama terdiam dalam hening… Akhirnya prabu Wrekudara memecah keheningan…..

W: WAAA…KAKAKKU JLITHENG..,MENGAPA SEDARI TADI DIAM MEMBISU MENGHADAP KETIMUR;

K: Iya..iya..ya.., begini adik Bima, spt kita ketahui tlatah Patiayam adalah situs purbakala yang memper kuat keberadaan Situs-Sangiran, tempat lahir ‘Leluhurnya Para Leluhur’ Manusia-Jawa yg sudah diakui diseantero persada bhumi;

Dengan ditemukannya Patiayam, berarti makin kuat ‘keyakinan’ para-ahli dari semua cabang keilmuan, bahwa p.Jawa memiliki sejarah peradaban Sangat-Purba. Dan menurut saya, adhi Bima.., p. Jawa sangat-sangat pantas menyandang gelar JAWA-DWIPA.

Saya tercenung memasuki alam Masa-Lampau jutaan tahun, suatu rentang waktu sejarah peradaban Manusia-Jawa khususnya dan manusia bhumi pada umumnya…..

Sejarah ‘Kemajuan’ Peradaban dari Sangat-Primitif sampai saat ini yg disebut Sangat-Modern…..Namun dalam cenung-menung ini walau kakak menghadap ketimur, namun mata-batinku secara tajam saya arahkan kebarat. Coba adhi amati sebelah barat bagian selatan dilereng kaki g. Merbabu dan g. Tidar ada dua tumpukan batu, tumpukan yg satu kecil sedang ygsatu lagi besar. Apakah adhi juga melihat?…

W : WAAA… YA..YA.. SAYA.. MELIHAT…KAKAKKU… ITU KAN YG TERKENAL DG NAMA ‘CANDI BOROBUDUR’ YG SDH BERDIRI KOKOH DAN MEGAH SEJAK 1300 -THN YL. SALAH SATU KEAJAIBAN DUNIA… WAAA… SAYA SDH TAHU, KAKAKKU JLITHENG. TERUS BAGAIMANA….?

K : Betul, adhi betul. Itulah salah satu ‘Peninggalan Leluhur’ Tanah Jawa. Candi Borobudur Keajaiban-Dunia…..

Tapi mata-batinku terpana oleh munculnya ‘CANDI-BARU’…

W: WAAA… YG MANA.. KAKAK JLITHENG

K : Coba pandang lurus kearah barat menelusuri pantura tanah Jawa, ada ‘CANDI BAU(eh BARU)’ yg lbh besar dibandingkan Borobudur; Sebagai monumen peninggalan Manusia-Modern bagi anak-cucu mereka sdh sepantasnya menjadi salah satu ‘Keajaiban-Dunia ke-9′;

W: WAAA… KAKAKKU JLITHENG BICARA NGELANTUR KEMANA…? ITU ‘KAN TUMPUKAN SAMPAH DIDESA BANTAR-GEBANG, BEKAS….BEKAS….BEKAS… APA…MALAH LUPA…..;

K: Bekasi, adhi….

W: YAA…BEKASI….

K: Terus kearah barat lagi di jl.Thamrin-Jkt., didlm gedung megah yg bernama Bank-Indonesia, ada tumpukan DATA HUTANG PRIVAT yg telah berhasil diNASIONALISASIkan menjadi BLBI. Konon 10-thn yl. berjumlah ratusan-triliun rupiah, seka rang menjadi seribu-triliun rupiah lebih. Produk keberhasilan ‘ORANG-ORANG MODERN YANG SUKSES’.

Saya kira inilah dua cerminan ‘KEMAJUAN PERADABAN MODERN’. Semoga keduanya menjadi ‘KEAJAIBAN-TERAKHIR’…..

W: WAAAA….. MENURUT SAYA APAKAH PANTAS DISEBUT SBG KEMAJUAN-PERADABAN…kakak Jlitheng?!

K: Eh…eh…eh… Sebentar adhi Bhima, Coba lihat keselatan sedikit agak ketimur, sepertinya para Panakawan Gareng(G), Petruk(P) dan Ba gong(B)berlarian keluar dari Balai-Kelurahan… Coba kita tanyakan kepada mereka…ada apa….

W: WAAA…YA..YA…MARI…MARI…

 

dlang..tak..dlang…tak…tak…dlang…

gungngngngng…..

 

dBo: saya ceritakan, Kyai Semar Badranaya Ismaya(SBI), pejabat Lurah di Desa Sangiran, baru saja mengutus putra2nya Gareng, Petruk & Bagong agar segera menghadap ‘panengah Pandawa’, yaitu prabu Tomy Arjunanto.

 

dlang…tak…dlang…tak…tak…dlang gungngngng

 

K: Ee…ee…berhenti sejenak Nala Gareng, Petruk dan Bagong, kalian bertiga berlarian keluar dari Balai-Kelurahan akan kemana dan ada perlu apa?!

G/P/B: E…m…anu…ndoro Prabu Dwarawati dan Prabu Bhima.., k..k..kami disuruh rama segera menghadap ndoro Prabu ‘Panengah Pandawa’ Tomy Arjunanto utk menyampaikan maaf atas sangat terlambatnya rama-kami membalas uluk-salam ndoro Tomy-Arjunanto.;

K: Lha..mengapa rama-kalian sampai terlambat menyambut uluk-salam tsb.?

G/P/B: Iya..ndoro sekalian kami utarakan, rama-kami beberapa minggu terakhir terlihat agak murung, sering berdiam diri, dan termenung-menung;

K: Emm…agaknya ada hal serius yg dihadapi kakak Semar…. Mari kita segera kedalam Balai-Kelurahan

adhi Bhima…adhi Bhima…adhi…?!Lho kok termenung… memikirkan apa?… adhi…adhi Bhima?!

W: WAAA…YA…YA…KAKAK JLITHENG, MEMANG SAYA AGAK TERMANGU, KITA SEKARANG INI SEDANG MAIN DALAM LAKON APA? DAN SIAPA DALANGNYA?!

K: Maksud adhi apa?

W: WAAA…BEGINI KAKAK JLITHENG, SAAT INI KITA BERADA DIDEPAN BALAI-KELURAHAN SANGIRAN, DAN KAKAK KYAI SEMAR SBG LURAHNYA SELAIN ITU TADI DIKATAKAN ‘PANENGAH-PANDAWA’ ADIKKU BERNAMA TOMY-ARJUNANTO. KALAU BEGITU SAYA SEBAGAI KAKAKNYA APA BOLEH MENAMBAH NAMA MENJADI BAMBANG-WREKUDARA…DAN INI DALANGNYA SIAPA…?!

K: Sudah…sudah… Soal nama adhi tidak usah dipersoalkan. Kakak akan menjelaskan soal lakon yg kita mainkan adalah ‘Kilas Gelar Lintas Peradaban’. Makanya kakak Kyai Semar menjabat Lurah di Sangiran, karena lokasi ini telah lama diakui dunia sbg Situs-Purbakala paling lengkap dan tua. Dan dg. ditemukannya Situs-Patiayam makin memperkuat Sangiran;

W: WAAA…YA…YA…SAYA MENGERTI, LHA…TENTANG…DALANGNYA…?;

K: Dalangnya…dalangBento…o..o..o

W: WHUAAH…KAKAK KYAI SEMAR,…KAKAK JLITHENG SAYA LEBIH BAIK PULANG SEKARANG, TIDAK SUDI DIMAIKAN OLEH dalangBento..o..o

SBI: Ei…ei…i…i…sabar adik Prabu…,dengarkan duluu…kata-kata saya. Tentu akhir2 ini adik Prabu sering mendengar terjadinya gugat-menggugat masalah pencemaran ‘nama-baik’, iya kan;

W: WAAA…YA…BETUL…LALU…?

SBI: Ei…ei..i..i.., jadi sebenarnya kita dimainkan oleh pribadi dalang yg cukup sulit kita temui pada era sekarang ini. Karena telah mampu mencemarkan nama-baiknya sendiri, berarti mampu mengkritik dan mengkritisi diri sendiri…..

W: WAAA…YA…YA…YA… SAYA MENGERTI…SAYA MENGERTI…..

SBI: Kalau begitu…saya ucapkan selamat datang adik Prabu berdua, telah sudi berkunjung ditempat sederhana ini. Ada kabar atau keperluan apa adik2 Prabu?;

K: Begini kakak Semar, tadi diluar kami berdua bertemu para putra Gareng, Petruk dan Bagong, menceritakan bahwa kakak Semar akhir2 ini banyak berdiam diri & sering termenung, apa ada hal yg sangat serius kakak…?!

SBI: Ei…ei…i..i.. Benar adik Prabu. Coba adik Prabu hening sejenak Banyak sekali rengek-tangis anak2, desah rintih kemiskinan, keprihatinan, kepedihan, kelaparan, pengangguran. Berjuta di Nusantra, serta dibelahanlain benua. Pendek-kata berjuta-juta Panakawan Kehilangan Lahan/Lungguhan(PKL), justru di tanah yg secara fitriah menjadi haknya. Dan anehnya semua Agama tidak mampu memberi solusi. Menata mana yg hak dan mana yg jahiliyah…..

Untuk inilah saya merenung, Mungkin melalui Sangiran kita bisa menelusuri Ratusan-Ribu Utusan Hyang Murbeng Dumadi bagi setiap Etnis & Suku Bangsa yg telah Dia Ciptakan. Kerusakan-Lingkungan semakin Parah, Banjir-Bandang, Tanah- Longsor, Pembalakan-Hutan semakin Arogan.

Saya merenung lama, jauh ke masa lampau sampai kemasa sekarang dan akhirnya muncul pertanyaan2: *kemana arah yg disebut KEMAJUAN-PERADABAN?

*Apa yg dimaksud dg HAM, UTK YG MANA, UNTUK SIAPA?

*Apa tugas atau untuk apa dan siapa MAHKAMAH-INTERNASIONAL?

*Siapa yg sudah mendapatkan AMNESTI-INTERNASIONAL? Saya kira sudah saatnya semua Bangsa didunia dan khususnya GENERASI PENERUS BANGSA DI NUSANTARA, menjadikan SANGIRAN SEBAGAI PUSAT CERMINAN(REFLEKSI) DAN PENELUSURAN SEJARAH JATI-DIRI DAN PERADABANNYA. MENJADIKAN ‘SANGIRAN SEBAGAI PUSAT-ZIARAH BANGSA2 DIDUNIA’.

Itulah adik Prabu, hal2 yg saya rasakan sebagai kepedihan dlm batin akhir2 ini…

K: Mmm…iya…ya…ya… kakak Semar….

W: WAAA…SAYA KIRA LEBIH TEPAT SBG ‘KEKEJAMAN-PERADABAN’…

K: Kemudian… adik prabu ‘Panengah Pandawa…ada pesan apa…

SBI: Itulah adik prabu Dwarawati, saya agak kurang perhatian karena situasi kepedihan ini, rayi prabu…..

K: Saya kok mendapat krenteg yg kurang nyaman ditambah saat2 malam lewat larut kakak Semar. Sepertinya sdh mendekati saatnya Goro-Goro kakak… Kalau begitu saya harus pamit, utk mempersiapkan segala sesuatunya…..

W: WAAA…KALAU BEGITU SAYA JUGA MOHON PAMIT KAKAK KYAI…..

SBI: Ei…ei…i..i..silahkan…silahkan…saya mengiringi dg pandonga…

 

dlang..tak…dlang..tak..tak…dlang…

nung.nong.nang.ning.nengngngng…

 

(menyambut ulur-salam dari kadang

http://tomyarjunanto.wordpress.com/ )

 

 

Rahayu…..

SANGKAN PARANING DUMADI (Lanjutan..>)

•April 7, 2009 • 8 Komentar

Dalam tulisan sebelumnya, saya sdh. sampai pada keadaan/sifat Paradoksal yang ada dalam(bahkan memenuhi) Alam-Semesta.

Kitapun -manusia- menjadi bagian yg. tak terpisahkan dari keadaan/sifat Paradoksal tsb. Ada/Tiada, Atas/Bawah, Baik/Buruk, Belakang/Depan, ELEKTRON/PROTON, Kanan/Kiri, Malam/Siang, Negatif/Positif, Pria/Wanita, Selatan/Utara, dst.

Apabila terjadi pengelompokan sifat2 yang sejenis, katakanlah kelompok ELEKTRON disatu sisi dan kelompok PROTON disisi lain, akan dapat menimbulkan apa yang kita sebut KUTUB atau POLARISASI. Kita pasti sudah tidak asing dg. istilah KUTUB(POLAR) Selatan/Utara -kutub Magnet Bumi-.

 
Coba sejenak kita renungi:

-a d a…kutub/paradoks/polarisasi-
-HA NA——-CA – RA – KA-.

Namun ada penemuan lain selain Elektron dan Proton, yaitu NEUTRON, yg tidak Negatip/tidak Positip atau disebut juga bintang Neutron. Apa & Bagaimana Neutron ini, para Ilmuwan masih sibuk berteori. Juga ditemukan apa yg disebut Lubang-Hitam(Black-Hole), yg konon materi apapun bahkan cahaya akan terhisap kedalamnya, akibat gravitasi yg dimiliki sangat-sangat kuat. Teori terbentuknya Lubang-Hitam ini adalah inti nucleus dari sebuah bintang yg meledak. Inti/nucleus tsb. memiliki kemampatan sangat-sangat luar biasa. Dicontohkan, sebuah inti/nucleus hanya sebesar pasir namun memiliki berat(massa) sama atau melebihi berat matahari. Kembali pada apa yang sudah saya uraikan sebelumnya, Alam-Semesta dimana kita berada didalamnya, ternyata penuh dg. Cluster/Kabut-Kosmis/Nebula yang masing2 merupakan kumpulan bermilyar bintang(matahari), dan ini berarti bermilyar Tata-Surya, satu PROTON dikelilingi beberapa ELEKTRON yang selalu bergerak ‘saling berinteraksi.’ DA TA SA WA LA…..

Kabut-Kosmis itu sendiri seluruhnya bergerak…..
Demikian kesimpulan para Ilmuwan Peneliti Alam-Semesta…

DARI-MANA dan AKAN-KEMANA…….
Hanya HYANG MURBENG DUMADI….. YANG MENENTUKAN…..

tan kena kinaya apa -
ma ga ba tha nga

 

Saya kembali menyinggung para Ilmuwan peneliti Alam-Semesta yang tiada henti2nya berkarya-upaya menyelami seluruh isi yang terdapat didalam kemahaluasan Alam-Semesta, yang konon TANPA batas – TANPA cahaya(maha gelap) – TANPA gravitasi – TANPA udara, namun ‘MUTLAK-ADA’, dan seluruh ciptaan(DUMADI) termasuk ‘debu-elektron’ yang dinamai manusia, terkandung-terengkuh didalamnya.

tan kena kinaya apa -
ma ga ba tha nga…….

 

Penemuan apa saja yang sudah didapat, upaya apa saja yg masih terus dilakukan serta siapa saja para Ilmuwan/Peneliti Alam-Semesta tsb. saya mohon maaf tidak mungkin menyajikan disini. Saya coba memandu anda kesitus http://en.wikipedia.org/wiki/
yang merupakan rujukan-utama dlm penulisan saya. Sebagai Encyclopedia, Wikipedia memang sangat lengkap isi-muatannya. Allcategories…

 

Baiklah saya lanjutkan penulisan ini -

Penemuan lain yg telah diyakini melalui alat deteksi adalah Gelombang Elektro Magnetis yg ternyata juga memenuhi Alam-Semesta. Penemuan lebih lanjut adalah bahwa Gelombang ini memiliki Spektrum-Frekwensi yg sangat luas, mulai dari frekwensi paling rendah yg dinamai Gel. Alfa/Beta/Gamma, Gel. Suara(yg dpt didengar), Gel. Radio/TV/Micro, Gel. Cahaya(yg dpt dilihat) dan terakhir Gel. Kosmis. Para Ilmuwan percaya bhw Gelombang Elektro Magnetis inipun memiliki/mengandung Daya-Magnetic-Energi. Saya disini hanya menulis garis besar kelompok2 Spektrum Gel. Energi tsb.

Para Ilmuwan Peneliti Alam-Semesta masih terus berupaya dg sungguh2, menguak misteri isi yg terkandung didalamnya.

Akhir2 ini tengah diselidiki apa yang mereka sebut Materi-Gelap/Dark-Matter(Anti-Matter) yg diduga menjadi penghasil partikel2 benih Materi. Penyelidikan ini makin intens dilakukan dg diluncurkannya sebuah satelit pd. Juni 2006 , yg diberi nama PAMELA(Payload for Antimatter Matter Exploration and Light-nuclei Astrophysics)- www.nature.com

 

Dari sebagian kecil upaya2 para Ilmuwan yg saya uraikan diatas, saya mengajak anda untuk kembali merenung sejenak tentang :

¤ ditemukannya berbagai kelompok cluster/kabut-kosmis/nebula yg didalamnya mengandung bermilyar/ triliun bintang(matahari) yang tiap bintang dikelilingi beberapa planet salah satunya Tata-Surya, didalam mana kita hidup;

¤ adanya bintang Neutron;

¤ adanya Lubang-Hitam(Black-Hole) yg memiliki gravitasi sangat kuat sehingga mampu menghisap Gel. Cahaya;

¤ diketahui ada Gelombang Elektro Magnetik yg memiliki Spectrum yg sangat lebar/luas serta memiliki Energi-Magnetik yg mana a.l. menyebabkan planet Bumi berotasi dan mengorbit Matahari secara tertib;

¤ ‘mulai’ diketahui apa yg disebut dg Antimatter yg melahirkan Matter;

¤ itulah ciptaan/DUMADI yg tlh. berhasil ditemukan. Semuanya bergerak teratur, dari mana/SANGKAN menuju kemana/PARAN, namun yg pasti berada didalam SESUATU…yang TANPA-batas, TANPA-cahaya, TANPA-gravitasi, TANPA-udara…..Ya, TANPA atau TIADA namun ADA, bahkan MUTLAK-ADA. Itulah yang kita namai ALAM-SEMESTA.

¤ para Ilmuwan dunia sebenarnya secara bersungguh2, tekun, tulus juga berusaha/ingin memahami: “SANGKAN PARANING DUMADI”.

Apakah kita sebagai pewaris ‘Ungkapan-Adiluhung’ tersebut, justru melupakannya.

 

~serba TIADA namun MUTLAK-ADA~

(apakah ini ILMU KASUNYATAN)

 

Baiklah saya akan mencoba melanjutkan penulisan ini dg bekal pertanyaan DIMANA PUSAT ALAM-SEMESTA
Apakah itu tempat awal/akhir, sebagai sumber/muara, yang berarti tempat MANUNGGALnya seluruh DUMADI…
Apakah sebagai tempat MANUNGGALnya JAGAT-AGENG lan JAGAT-ALIT…….Makro-Kosmos dan Mikro-Kosmos…..
Apakah HYANG MURBENG DUMADI juga BERSINGGASANA ditempat ini…..
Apa hubungannya dengan ungkapan: ‘MANUNGGALING KAWULO GUSTI’

tan kena kinaya apa…..
ma ga ba tha nga…..

 

berlanjut>>_____

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.